I made this widget at MyFlashFetish.com.

Followers

Mengenai Saya

Saya seorang perfectsionis yang terkadang bingung untuk memilih pilihan, memiliki bakat sanguinis, suka dengan hal hal berbau sosial, berkeinginan untuk memperbaiki pertahanan nasional, masalah cinta pasti sudah ada yang mengatur
Diposting oleh Mahardika Kurnia Dewantara on 12:03 AM komentar (0)

Sedikit Hadiah Untuk Ibu

Ibu, ya itulah nama malaikat yang diturunkan Tuhan untuk setiap manusia di dunia. Malaikat tak bersayap yang selalu ada untuk anaknya, selalu melindungi, selalu memperhatikan kita dari kecil hingga kita dewasa dan mempunyai istri atau suami kita tetaplah bayi kecilnya. Betapapun cerdas anda betapapun tua anda, kasih yang diberikan ibu tak akan berkurang. Pernahkah anda ditanyakan sudah makan atau belum ketika anda sudah dewasa? Rasanya kecil memang, tapi dibalik pertanyaan tersebut mengandung arti luar biasa dari cinta ibu. Ibu sangat mengkhawatirkan keadaan kita meskipun keadaannya pun tak sebaik kita. Kasih ibu sepanjang masa, kalimat itulah mungkin yang bisa dirangkum dalam setiap penjelasan tentang cinta ibu kepada anaknya. Tak ada cinta yang lebih besar didunia ini kecuali cinta tuhan kepada makhluknya dan cinta ibu kepada anaknya.
Tidak ada manusia didunia yang dilahirkan di bumi ini tanpa adanya seorang ibu. terkecuali Nabi Adam yang memang di ciptakan langsung tanpa adanya ibu. Kita pasti pernah merasakan rasa cinta ibu dan kasih sayang ibu. Meskipun tak semua dari kita mendapatkan kasih sayang ibu yang baik. Akan tetapi beliau memberikan hal tersebut karena tidak mau anaknya akan mengalami hal sepertinya, dan beliau berharap agar anaknya akan mampu bertahan dalam dunia yang keras ini kelak.
Dengan kasih yang tak terhitung dari ibu, sudah sepantasnya kita sebagai anak harus memberikan balasan yang baik kepada ibu. Meskipun tak mungkin kita membalas semua yang dilakukan ibu pada kita, karena memang kasih sayang ibu yang tak terbalas oleh apapun. Tak banyak yang diharapkan ibu dari kita, cukup melakukan yang terbaik untuk kehidupan kita dan ibu, berprestasi, dan selalu ada untuknya. Lalu bagaimana cara membalas cinta ibu ? Tak perlu susah kita mencari cara membalas kasih ibu, salah satu caranya adalah memberikan kenangan di ulang tahunnya atau pada hari ibu. Hal inilah yang saya lakukan terhadap ibu saya.
Pada hari ibu tahun lalu saya merencanakan sebuah kejutan yang akan saya berikan kepada ibu saya. Dengan membuatkan poster selamat hari ibu dan ucapan terima kasih yang saya kirimkan pada email ibu saya. Meskipun kemampuan saya dalam mengedit gambar tak sejago kakak saya, saya mulai belajar sebelum hari H pengiriman foto, disamping itu saya juga mulai mengerjakan surat elektroniknya berupa ketikan pada laptop saya. Tidak sulit tuk merangkai kata yang akan saya berikan kepada ibu saya. karena memang dengan ini akan memberikan sesuatu kepada ibu saya.
Satu baris telah tertulis, namun saya masih belum menemukan lanjutan baris tersebut. Merenung akan apa yang telah ibu saya lakukan membuat ide seakan mengalir dengan sendirinya dipikiran. Baris kedua, baris ketiga, telah terlalui mulai buntu kembali. Kembali saya berdiam untuk memikirkan apa yang harus saya tulis di surat ini, beberapa waktu kemudian saya ingat akan kisah kasih sayang ibu saya kepada saya saat saya sakit. Waktu itu saya sering sakit panas, tak terkira panasnya sampai terasa dingin di badan meskipun thermometer menunjukkan angka lebih dari 40 derajat celcius. Mulai muncul bintik bintik merah disekujur tubuh saya. Saya berfikir bahwa saya tak akan lama, karena ini mirip dengan demam berdarah. Akan tetapi ibu saya tak terlihat putus asa melihat keadaan anaknya seperti ini, langsung saya dibawa ke rumah sakit terdekat dengan rumah saya disana saya diambil darah untuk dicheck sakit saya. Beruntung bukan demam berdarah sakit saya. Akhirnya setelah mengingat kejadian tersebut saya kembali mendapatkan ide segar yang seakan kembali menyeruak di otak. Baris ke empat, kelima, keenam, hingga terakhir pun terlewati. Selesai sudah surat yang akan kukirim lewat email.
Surat sudah selesai dan saatnya membuat poster yang akan kusertakan pula. Ide yang muncul saat itu adalah dengan background bunga mawar, kenapa mawar? Karena mawar menurut saya bunga yang sangat indah yang mampu menggambarkan betapa besar rasa cinta saya kepada ibu saya. Dengan kemampuan yang minim saya mulai mencari gambar background berupa bunga mawar di internet. Dan akhirnya kutemukan yang saya cari. Setelah mendapatkan, mulailah saya mencari foto ibu saya yang akan saya tempelkan ke dalam poster tersebut. Setelah di-crop dan ditempelkan ke poster, mulailah saya merangkai kata demi kata yang akan dimasukkan kedalam poster. Kata-kata itu adalah “selamat hari ibu buk, semoga kedepan ibu sehat selalu, mohon maaf atas semua kesalahanku buk” setelah semua jadi surat dan poster. Mulai ku upload pada emailku dan kukirim ke email ibuku.
Saat itu hari masih pagi menuju siang saya mulai mengetik pesan lewat SMS untuk ibu saya. Isinya adalah “ibu, buka emailmu ada sesuatu yang penting”. Mungkin dengan kata kata sesuatu yang penting menimbulkan keingin tahuan besar. Dan memang benar, ibuku penasaran dengan isi pesanku dan akhirnya meminta salah satu temannya untuk membukakan emailnya. Betapa terharunya ibuku saat beliau melihat surat dan poster yang aku kirim lewat email tersebut. Langsung beliau ceritakan kepada teman teman beliau yang juga mendapatkan ucapan dengan cara masing-masing dari anak mereka masing masing.
Sepulang beliau mengajar dan aku pun sudah dirumah, beliau menceritakan semua yang terjadi tadi. Kata beliau teman-temannya sampai iri karena anaknya tidak mengucapkan selamat hari ibu. Meskipun hanya kecil yang kulakukan, hal itu tidak menjadi masalah bagi ibuku dan aku pun sangat senang karena ibuku menyukai kiriman emailku. Terima kasih ibu telah mendidikku, telah memberikan pengalaman besar tentang arti hidup, telah merawatku disaat sakit maupun sehat, terima kasih ibu telah memberikan yang terbaik untukku semoga engkau selalu sehat, selalu tabah menghadapi hidup ini, engkau memiliki umur panjang. Tunggulah sampai aku dapat membahagiakanmu, sampai aku memperkenalkan istriku padamu, sampai aku memberikan cucu bahkan cicit untukmu bu.. terima kasih ibu
 

 

terima kasih kepada www.perempuan.com telah memberikan sarana untuk mengekspresikan pengalaman saya.

sak lengkapipun. .

The Born of The Earth

Diposting oleh Mahardika Kurnia Dewantara on 7:04 AM komentar (0)





Earth Day is a day that is intended to inspire awareness and appreciation for the Earth's natural environment. Earth Day was founded by United States Senator Gaylord Nelson as an environmental teach-in first held on April 22, 1970. While this first Earth Day was focused on the United States, an organization launched by Denis Hayes, who was the original national coordinator in 1970, took it international in 1990 and organized events in 141 nations.[1][2] Earth Day is now coordinated globally by the Earth Day Network,[3] and is celebrated in more than 175 countries every year.[4] April 22 corresponds to spring in the Northern Hemisphere and autumn in the Southern Hemisphere. Numerous communities celebrate Earth Week, an entire week of activities focused on environmental issues. In 2009, the United Nations designated April 22 International Mother Earth Day.


The History

Responding to widespread environmental degradation[citation needed], Gaylord Nelson, a United States Senator from Wisconsin, called for an environmental teach-in, or Earth Day, to be held on April 22, 1970. Over 20 million people participated that year, and Earth Day is now observed on April 22 each year by more than 500 million people and several national governments in 175 countries.[citation needed]

Senator Nelson, an environmental activist, took a leading role in organizing the celebration, hoping to demonstrate popular political support for an environmental agenda. He modeled it on the highly effective Vietnam War teach-ins of the time.[6] The proposal for Earth Day was first proposed in a prospectus to JFK written by Fred Dutton.[7] However, Nelson decided against much of Dutton's top-down approach, favoring a decentralized, grassroots effort in which each community shaped their action around local concerns.

Nelson had conceived the idea for Earth Day following a trip he took to Santa Barbara right after the horrific oil spill off the coast in 1969.[citation needed] Outraged by the devastation and Washington political inertia, Nelson proposed a national teach-in on the environment to be observed by every university campus in the U.S.[8]

I am convinced that all we need to do to bring an overwhelming insistence of the new generation that we stem the tide of environmental disaster is to present the facts clearly and dramatically. To marshal such an effort, I am proposing a national teach-in on the crisis of the environment to be held next spring on every university campus across the Nation. The crisis is so imminent, in my opinion, that every university should set aside 1 day in the school year-the same day across the Nation-for the teach-in.[8]

One of the organizers of the event said:

"We're going to be focusing an enormous amount of public interest on a whole, wide range of environmental events, hopefully in such a manner that it's going to be drawing the interrelationships between them and, getting people to look at the whole thing as one consistent kind of picture, a picture of a society that's rapidly going in the wrong direction that has to be stopped and turned around.

"It's going to be an enormous affair, I think. We have groups operating now in about 12,000 high schools, 2,000 colleges and universities and a couple of thousand other community groups. It's safe to say I think that the number of people who will be participating in one way or another is going to be ranging in the millions."[9]

Nelson announced his idea for a nationwide teach-in day on the environment in a speech to a fledgling conservation group in Seattle on September 20, 1969, and then again six days later in Atlantic City to a meeting of the United Auto Workers. Senator Nelson hoped that a grassroots outcry about environmental issues might prove to Washington, D.C. just how distressed Americans were in every constituency. Senator Nelson invited Republican Representative Paul N “Pete” McCloskey to serve as his co-chair and they incorporated a new non-profit organization, environmental Teach-In, Inc., to stimulate participation across the country. Both continued to give speeches plugging the event.

sak lengkapipun. .